Senin, 14 Januari 2013

So get up!

Aku menangis bukan karena aku kesal
akibat aku dimarahi;
Aku menangis karena aku kesal,
bahwa perkataannya benar,
disaat orang lain bisa,
nyatanya aku tidak bisa.

Jumat, 07 Desember 2012

Makanya Jangan Lama-lama

Hari Sabtu lalu orangtua dan adik saya yang perempuan datang berkunjung ke Bandung; seperti biasa untuk melihat kedua anaknya yang sedang merantau. Saat itu, hujan deras turun melanda, mau ngapa-ngapain rasanya agak malas. Kedatangan mereka kali ini sebenarnya tidak ada kabar sama sekali sebelumnya, kalau mereka akan datang. Tiba-tiba sudah menelepon saja, bahwa mereka sedang beristirahat di kilometer 88; yang menelepon adalah adik saya, dia berkata agar saya cepat untuk bersiap-siap. Saya hanya berkata "ya..ya..ya.." sambil mengangguk-angguk, tetapi setelah menutup telepon saya tidak melakukan apa-apa (iya, iya di mulut aja ahahaha)

Kurang lebih 30 sampai 45 menit mereka menelepon lagi kalau mereka sudah keluar tol deket daerah saya. Masih dengan jawaban ya ya ya, setelahnya saya masih santai-santai, karena pikir saya kondisi jalan dari pintu tol sampai tempat saya akan macet. Ternyata 5 sampai 10 menit kemudian saya sudah di telepon kembali. "Mana lu kak, kita udah di lapangan tenis..." Dengan terburu-buru saya bersiap-siap dan berdandan seadanya, saya baru siap 30 menit kemudian; saat itu saya sudah di telepon sampai berkali-kali. Akhirnya setelah siap, segera saya menuju parkiran kampus. Disitu saya lihat mobil mereka sudah terparkir, kemudian tanpa ragu saya masuk mobil. Di mobil, saya hanya menemukan adik saya.

Saya : "Mama sama Bapak mana dek?"
Adik : "Mama sama Bapak lagi asdgfhfjfk%@Y&#^@#@#..."
Saya : "Hah? Apa lo bilang? Mama sama Bapak lagi kemana?" (saya kurang mendengar perkataan adik saya, jadi yang terdengar hanya seperti kumur-kumur; maklum agak budeg)
Adik : "Mama sama Bapak lagi pipis! Ah elah!"
Saya : "Ya elu, lagian ngomong kagag jelas. Pipis dimana? Tau gitu ke kosan gue aja"
Adik : "Tauk ah!!!"

Kemudian saya melihat kedua orangtua saya berjalan dari arah gedung serba guna kampus untuk menumpang toilet. Ketika mereka masih agak jauh, saya berkata kepada adik saya untuk tidak bilang kepada mereka bahwa saya sudah di mobil (sambil saya menyembunyikan diri saya dengan agak merosot di mobil). Saat mereka sampai di depan mobil ...

Mama : (Nyamperin pintu penumpang depan, karena adik saya duduk di depan) "Kakak mana dek?"
Adik  : "Tau tuh..." (Ini anak memang jawabannya selalu gatau, jadi kadang bikin orang kesel hahaha)
Mama : (Nyamperin pintu belakang, tempat saya duduk; karena kacanya gelap, jadi tidak kelihatan apa-apa dari luar) *buka pintu; lihat saya sedang merosot di bangku; kami saling berpandangan*
              "BRENGSEK LOOOO!!!"
Saya    : *diam* "........."

Hahahahahahahah :D ლ(ಠ_ಠლ)

Kamis, 27 September 2012

Control myself

Dear Almighty God,
If one day i have a heart full of emotion and anger,
If i have a resentment that unclear,
don't You let it all bigger than a sense of gratitude to You,
and teach me not to complain,
so that i can please You.
Since I've made ​​it through it all,
because of You.

Selasa, 25 September 2012

Live Your Life

"Travel often ;
Getting lost will help you find yourself."
Lifecycle (The Holstee Manifesto)

Minggu, 12 Agustus 2012

A Present

Beberapa orang pernah berkata, kalau anak perempuan itu sungguh sangat dekat dengan sang ayah. Saya tidak sepenuhnya membenarkan sekaligus menyalahkan statement tersebut. Saya dan adik saya yang perempuan memang dekat dengan Bapak, tapi adik saya yang laki-laki pun dekat dengan Bapak. Namun hal yang membedakan antara kedekatan antara anak perempuan dengan sang ayah dan anak laki-laki dengan sang ayah adalah topik pembicaraan (menurut saya loh ya). Bapak lebih banyak bertukar pikiran tentang hal-hal memang diperlukan suatu keputusan di akhir dengan anak laki-lakinya, sedangkan dengan anak perempuan, mungkin bapak lebih banyak bercengkrama dan nyrocos serta cerita ini dan itu.

Berbicara soal ayah, ayah saya akan berulang tahun beberapa hari lagi (saya tidak perlu menyebutkan kapan tanggalnya, maupun berapa usianya). Saya berpikir, mau ngasih kado apa ya buat beliau nanti; atau mungkin, kami (mama, dan 2 adik saya), mau ngasih kado apa kepada Bapak. Ayah saya bukan tipe orang yang menaruh perhatian besar pada hari lahir seseorang; jangan harap. Ayah saya tipe orang yang sederhana, jadi perayaan ulang tahun dari yang besar sampai yang kecil pun, bukan hal yang penting untuk dilakukan. Menurut beliau, ulang tahun itu ya berarti kita mengucap syukur kepada Tuhan atas bertambahnya usia 1 tahun lagi kepada kita; bisa dengan memberi persembahan syukur ke Gereja. Kalau memang perlu untuk mentraktir teman, ya bolehlah beberapa orang, misalnya traktir bakso (wahahaha, masih jaman?).

Selama ini, memang agak susah untuk mencari kado buat Bapak. Serba salah memang; karena kami sering tidak tahu apa yang layak dianggap spesial buat Bapak (hahaha). Pernah suatu ketika saya dan dua adik saya membelikan charger handphone untuk di mobil; karena Bapak bercerita kalau beliau kadang kehabisan baterai di tengah jalan, maupun tidak sempat men-charge handphone di rumah. Akhirnya kami bawa pulang barang tersebut dan memberikannya kepada Bapak. "Pak, tadi lihat barang ini di blablabla harganya murah blablabla ... karena Bapak bilang butuh kemarin itu ..." Di sela-sela Bapak menonton tivi, beliau menjawab, "Ah, buat apa barang ini, merk gampang rusak ini yang murah-murah. Buang aja .." (spontan dilempar ke lantai). Sakit? Iya. Tapi karena saya sudah tau bagaimana Bapak, jadi saya dan adik-adik saya memaklumi saja hahaha (saya belum mengecek lagi, apakah Bapak pake tuh mobile charger atau tidak). Balik lagi ke soal kado, selama ini kado yang diberikan sama Bapak itu ngga jauh-jauh dari setelan kemeja, batik, tas, sampai sapu tangan. Jujur saja untuk memberi kado kepada pria (bukan cuma ayah saja), cukup sulit untuk memilih dan yang cocok dengan selera; berbeda dengan perempuan.

Teringat kata kado, teringat juga tentang kelulusan dan wisuda. Kalo bulan Juli kemarin saya telah dinyatakan lulus dan di wisuda, mungkin hal tersebut adalah kado yang terindah buat Bapak (juga Mama saya). Tapi nyatanya, di ulang tahun Bapak saya belum bisa memberikan gelar tersebut :"( Banyak hal yang merupakan kebanggaan dan kebahagian untuk orangtua tidak bisa dibeli dengan uang; hal tersebut salah satunya. Tetapi saya janji akan segera menyelesaikan ini semua; walau akhirnya saya beri label sebagai 'kado yang telat' hehehe.

Happy Sunday! :)

Kamis, 02 Agustus 2012

Tunda, tunda lagi dan lagi

Baru beberapa menit yang lalu gue membaca renungan yang sedikit banyak menampar gue. Ini bener- bener terjadi dalam hidup gue, dan saat ini mungkin gue sedang mengalaminya. Setiap tindakan yang kita ambil pasti ada akibatnya. Gue mau sedikit share renungan yang gue baca barusan.

"Penyakit Menunda

Kerjakanlah apa yang bisa Anda kerjakan hari ini! Jika tidak, Anda akan membayar mahal di kemudian hari. Terlalu berlebihankah? Saya rasa tidak, sebab seringkali saya harus membayar dengan mahal akibat dari penundaan yang pernah saya lakukan. Saya lebih mudah jadi stress ketika melihat setumpuk pekerjaan yang tidak ada hentinya. Saya makin frustasi ketika waktu terus bergulir mendekati dead-line yang sudah ditentukan. Waktu-waktu itulah saya berubah jadi mahkluk yang sangat sensitif. Jangan coba macam-macam dengan saya. Sedikit kata gurauan bisa berarti ucapan serius di telinga saya.

Pekerjaan yang saya lakukan pun tak ubahnya dengan kegiatan rodi yang sangat menyiksa. Saya kehilangan taste dari setiap pekerjaan yang saya lakukan. Saya sama sekali tidak bisa menikmati pekerjaan di saat terburu-buru seperti itu. Itu semua bermula dari sebuah penundaan yang saya lakukan.

Kadangkala kita juga melakukan hal yang sama, melakukan penundaan demi penundaan dengan sebuah pemikiran, “ Aku toh bisa mengerjakan keesokan harinya.” Tanpa kita tahu bahwa hari esok sudah memiliki kesibukannya sendiri. Bagi banyak orang hal ini mungkin dianggap sangat sepele, tapi bukankah kadangkala kita kehilangan kesempatan-kesempatan berharga itu berlalu begitu saja hanya karena kita menunda untuk segera melakukannya?

Jangan pernah menunda apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini. Ini adalah salah satu prinsip kesuksesan yang sangat penting. Biasakanlah diri untuk selalu menunda-nunda, maka kesuksesan yang kita impikan juga akan tertunda. Napoleon Hill, seorang motivator berkata, “Yang berarti bukan apa yang akan Anda kerjakan melainkan apa yang sedang Anda kerjakan sekarang.” Banyak orang gagal meraih kesuksesan karena penyakit suatu hari. Mereka harusnya bisa meraih kesuksesan pada hari ini, tetapi mereka memilih untuk menundanya dan berkata akan melakukannya pada suatu hari. Apa yang bisa kita kerjakan pada hari ini adalah anugerah Tuhan yang harus kita responi dengan cepat. Jika kita menunda untuk melakukannya, ada kalanya itu berarti kita secara tidak sengaja menolak berkat dan keberhasilan yang diberikan oleh Tuhan bagi kita pada hari ini. Jadi, jangan biasakan untuk melakukan penundaan dan terjangkit dengan penyakit suatu hari." (source : http://www.renungan-spirit.com)

Mungkin bukan gue aja yang pernah mengalami hal ini, temen-temen mungkin pernah. Hari ini gue dan temen-temen di tegur lewat satu renungan. Kesalahan di belakang hari, mudah-mudahan ngga kita lakuin lagi di depan hari. Semangat untuk kita semua!

Selasa, 17 Juli 2012

Tidak semudah yang dibayangkan

Hidup ini penuh sama banyak kejadian. Ada kejadian yang membuat kita sedih, senang, marah, kesal, terharu, dan masih banyak lagi. Saat menulis ini, sebenernya udah terpikir dari beberapa bulan belakangan. Tapi baru sempet dituangkan sekarang. Ini mengenai kejadian-kejadian yang ada dalam hidup gue. Gue udah hampir 4 tahun kuliah disini. 4 tahun bukan waktu yang sebentar dalam menjalani sebuah kegiatan pendidikan. 4 tahun juga tidak termasuk waktu yang lama, jika kita bandingin waktu kita Sekolah Dasar dahulu.

Bukan hal yang mudah menjalani waktu yang hampir 4 tahun ini. Banyak masalah yang gue hadapin, dan banyak juga masalah yang udah gue buat. Banyak sukacita yang gue dapat, dan semoga gue juga ternyata bisa men-sukacita-kan orang lain. Semakin bertambah umur, semakin kita dituntut untuk menjadi semakin dewasa dalam menghadapi semua kejadian yang boleh kita alami. Hal ini yang gue rasakan dampaknya, selama gue menjalani waktu yang hampir 4 tahun ini.

Gue rasa ngga salah kalo misalnya gue bilang semua kehidupan gue adalah campur tangan Tuhan. Bagaimana engga, rasanya ngga mungkin kalo semua terjadi secara kebetulan. Waktu yang hampir 4 tahun ini, ngga bisa gue pungkiri, cukup medewasakan gue. Oke fine, kalo beberapa atau orang-orang ada yang menilai gue masih kekanakan. Gue menyadari kok, gue belum sepenuhnya menemukan diri gue di posisi dewasa dan bijaksana. Tapi satu hal yang boleh gue bagiin, gue banyak belajar dan menemukan hal-hal baru dan luas semenjak gue SMA dan kuliah. Mungkin ini yang dibilang orang-orang kalo masa kuliah itu masa-masa dimana kita bisa bebas namun wajib bertanggung jawab. Tapi bukan berarti dari bagian keluarga, gue ngga nemuin apa-apa. Both of  that things, membuat gue semakin tahu banyak hal, dari awalnya hanya bisa menangis, kemudian memperhatikan,  lalu berpikir, dan bertindak. 

Ngga mudah menjalani semua ini, bukan hanya gue, tapi orang lain juga, dan berbeda porsi. Gue kadang miris dan sedih liat diri gue sendiri, yang ngga bisa menghadapi dan menyelesaikan masalah atau tantangan yang sekecil pun. Mau nyalahin siapa, yang ada nyalahin diri sendiri.Tapi seenggaknya saat ini gue sedikit lebih bisa memperhatikan karakter orang (although it is little bit sensitive); mau untuk menahan emosi untuk hal-hal yang membuat marah atau kesal, walau kadang sulit; bersyukur, walau kadang lupa untuk ngelakuinnya dan hanya bisa mengeluh; dan yang paling penting, sedikit demi sedikit gue mulai tahu apa kekurangan gue, walaupun gue masih belum begitu paham apa kelebihan gue dan bagaimana menanggulangi kelemahan diri gue sendiri. So, life is not so simple.